Review Spectre, Pencarian Terhadap Hantu yang Anti Klimaks

91

Beita Film, Cinemags.id – Setelah tepat setengah abad, spion flamboyan James Bond 007 akhirnya muncul kembali. Masih tetap dengan Daniel Craig dan sutradara Sam Mendes, film Bond ke-24 ini membangkitkan kembali musuh bebuyutan klasik Tuan Bond yang bernaung dalam organisasi SPECTRE dengan pria bersetelan khas dan kucing putihnya. Film yang berbujet di atas $250 juta ini juga tetap diperkuat aktor-aktris ternama Inggris seperti Lord Voldermord sebagai M, Naomi Harris (Miss Moneypenny), Ben Whishaw (Q), dan juga karakter pendukung yaitu petinggi intelijen C yang diperankan oleh Prof. Morriarty. Untuk santapan pelengkap, Mr. Bond kali ini bermain dengan janda (Monica Belluci sebagai Ny. Sciara yg berkabung) sekaligus dengan seorang gadis (Lea Seydoux sebagai Nn. Swann). Sam Mendes juga tetap dibantu Thomas Newman di bagian musik. Namun kali ini Hoyte van Hoytema (Interstellar, Her) yang dipilih untuk mengurusi bagian sinematografi.
Dalam setengah abad terakhir, genre film spionase terus berkembang. Mulai dari gagasan klasik tentang maniak yang ingin menguasai dunia, hingga tentang sosok personal-emosional mata-mata itu sendiri. Dalam saga James Bond, kedua pendekatan dramatisasi tadi telah dipakai. Khusus Bond era Craig, pendekatan personal-lah yang paling ditekankan, walau terkadang dalam titik tertentu terlalu pretensius (Quantum of Solace dan sedikit di Skyfall). Lalu bagaimana dengan SPECTRE?
Adegan gun barrel pasti ada. Begitu pula title sequence yang elegan, sensual, sentimental, dan berlendir (secara harafiah) yang berpadu dengan lagu “Writting on The Wall“-nya Sam Smith. Kombinasi yang membuat penasaran, warna kelam apa yang akan ditampilkan 2 jam kedepan.
SPECTRE sepertinya adalah upaya awal lagi untuk membangkitkan rasa James Bond era 60-70-80an. Selain organisasi kriminal klasik, beberapa adegan di film ini sepertinya merupakan “pengulangan terhormat” dari film-film Bond terdahulu seperti topeng tengkorak dan parade kematian (Live and Let Die), perkelahian tangan kosong di kereta (From Russian With Love), akrobatik helikopter (For Your Eyes Only), sampai bangunan di atas gunung salju (On Her Majestic Secret Service).
Penulis naskah dan sang sutradara nampaknya berupaya keras untuk menjalin benang merah antara SPECTRE dan film-film Bond Craig sebelumnya. Karakter Tuan White dari Casino Royale ditampilkan kembali sebagai penuntun Mr. Bond menuju kepala ular (atau gurita) yang harus dia potong.
Karakter James Bond juga makin matang. Daniel Craig memang Bond paling sinis setelah Roger Moore. Keduanya sanggup menertawakan kematian dengan bergaya. Bond juga semakin “profesional” dan tidak bawa perasaan saat menggali informasi dari sang wanita (entah mungkin karena Monica Belucci yang umurnya sudah 51 tahun disini). Tapi kemampuan anti-baper tadi akhirnya jebol juga ketika bertemu Dr. Swann. 007, sang alpha male mendadak layu dan melankolis. Formula dinamika karakter ini toh bukan barang baru seperti di Casino Royale. Namun yang membuat saya terganggu adalah betapa singkat dan kurang dalamnya drama interaksi antara Bond dan Swann. Apakah cinta Nona Swann memang layak diperjuangkan?
Pendekatan sutradara dalam menampilkan organisasi kriminal kelas wahid Spectre pada awalnya sangat menjanjikan. Semua penonton pasti terdiam sekaligus terpana pada adegan pertemuan ala quasi-occultism di Roma yang minim pencahayaan dan musik latar. Namun semakin ketengah, cara penggambaran Mendes semakin anti-klimaks dan generik. Kemampuan Mendes dalam mengarahkan drama yang intensif, menyeret, pedih, dan personal seperti di American Beauty seperti hilang begitu saja.
Salah satu kesalahan terbesar film ini adalah menyisipkan sub-plot ala Captain America : Winter Soldier. Plot ini sendiri tidak salah, bahkan berpotensi menampilkan nostalgia yang klasik sekaligus sophiskatik. Namun penggambaran alurnya bagi saya kurang menyatu dengan plot utama, dan malah cenderung hanya menambah durasi. Efeknya adalah terbuang secara sia-sia potensi salah satu aktor pendukung di film ini (NO SPOILER).
Untuk kualitas akting para pemeran yang lain saya rasa tidak ada masalah. Naskah dan dialog juga cukup berwarna, walau masih tetap kalah cerdas dengan Casino Royale. Sisi sinematografi pun tidak perlu diragukan lagi kualitas seorang Van Hoytema. Lalu bagaimana dengan musik latar?
Nah, di sinilah mungkin masalah utama film ini. Kelas seorang Thomas Newman yang sudah sering berkerja sama dengan Mendes mungkin tidak perlu dipertanyakan lagi keahliannya di dunia komposer musik film. Ini kedua kalinya dalam sebulan terakhir saya mendengar gubahan Newman setelah di Bridge of Spies, dan tidak ada masalah di situ. Newman jugalah yang menggarap musik latar di Skyfall. Namun pada SPECTRE, entah mengapa gubahan Newman kurang menangkap spirit dan tone film yang ditampilkan.
Tema SPECTRE secara garis besar bukanlah soal aksi, seksi, martini, dan omega. Bukan juga soal strategi musuh menguasai dunia. Tema film ini sebenarnya adalah puncak dari segala kepedihan Tuan Bond ketika dia tahu bahwa masa lalunya lah yang sebenarnya menghantuinya dari kejadian di Casino. Berbeda dengan Skyfall, kali ini hantu itu hidup kembali (perhatikan kutipan preface di awal film). Hantu itu nyata dan tak kenal ampun. Itulah alasan utama film ini diberi judul SPECTRE. Namun, musik latar dari Newman (khususya di bagian akhir film) malah menjadikan film Bond ini layaknya film aksi generik belaka. Benar-benar dibawah ekspetasi saya.
Kesimpulannya, SPECTRE adalah suguhan yang apik dan padat jika kita menganggapnya sebagai film James Bond yang terpisah seperti film-film 007 sebelum Craig. Tapi premis awal SPECTRE adalah klimaks dari ketiga film sebelumnya. Dan sebagai klimaks quardaple, SPECTRE memperlihatkan kebingungan dalam menentukan plot, tema, dan warna seperti apa yang ingin ditampilkan pada penonton. Sebuah suguhan campur aduk yang memang padat menyenangkan (dan ya, sisi nostalgia) tapi sayangnya kurang solid. SPECTRE menjadi penutup parade film spionase barat di tahun 2015 yang anti klimaks setelah sebelumnya kita disuguhi Kingsman: Secret Service, Mission Impossible 5, Man from U.N.C.L.E, dan Bridge of Spies. Dan jika ini memang menjadi penutup karier Daniel Craig sebagai 007, amat disayangkan.
Akhir kata, saya jadi ingat adegan dialog di film Kingsman: Secret Service ketika Mr. Valentine berdialog dengan Mr. Galahad tentang bagaimana film spionase menjadi semakin serius dan tanpa humor. Mereka merindukan film-film James Bond terdahulu di mana musuh berusaha menguasai dunia dan agen 007 yang banyak gadget canggih. SPECTRE ingin mencoba mengembalikan itu, walau dengan cara yang……terlalu tertebak.
linebreak
Ini adalah artikel review dari komunitas Cinemags dan telah disunting sesuai standar penulisan kami. Andapun bisa membuatnya di sini.