Review Film Sing Street

Review Sing Street – What is Happy-Sad?

355

Review Film Sing Street
Ini adalah artikel review dari komunitas Cinemags dan tidak mencerminkan pandangan editorial Cinemags. Andapun bisa membuat artikel serupa di sini.
linebreak-720x40

Dandanan menor, lagu berirama synth dan juga syair bernuansakan mellow. Semua hal itu mungkin lekat dengan tren musik di beberapa tempat seperti Jepang dengan visual-kei-nya atau Norwegia dengan black metal-nya, namun tepat di antara itu ada satu tren yang paling terkenal, yakni britpop 80-an. Sing Street mengambil tema di Dublin dan tren musik britpop saat itu memegang peranan besar dalam perjalanan tokoh-tokohnya.

Conor adalah murid SMA biasa yang ingin punya gadis, namun caranya cukup berbeda dari yang lain. Setelah pindah ke SMA Katolik oleh satu dan lain alasan, Conor menemukan Raphina. Ia adalah seorang model yang terlihat terkenal dan memang jauh di atas level Conor, sehingga memikatnya dengan kata-kata gombal mungkin tidak cukup. Secara spontan ia mengaku pada Raphina kalau band yang diusungnya sedang mencari model video klip. Masalahnya, ia tidak punya band. Dari situ plot berjalan, utamanya melibatkan perjalanan Conor dan Raphina, namun bukan berarti yang lain ketinggalan.

Mari melihat karya sebelum dari John Carney, sang sutradara Sing Street. Begin Again adalah film yang cukup menyenangkan. Senang melihat persahabatan antar beberapa orang dikemas secara padat dan tidak bertele-tele lewat dialog yang mudah dicerna atau bahkan adegan-adegan yang sederhana. John mungkin adalah salah satu dari orang yang pas melakukan hal ini. Dapat dilihat dari Mark Ruffalo dan Keira Knightley berurusan dengan masalah pribadi mereka, namun di sisi lain tetap menyisihkan beberapa kasih dari mereka untuk orang-orang yang mereka sayang. Layaknya Begin AgainSing Street kurang lebih mengusung tema seperti itu

mpc-hc 2016-08-14 13-32-15-41.png

Karakter Conor sebagai kunci cerita di sini. Melibatkan banyak tokoh lain seperti teman pertamanya di SMA baru yang medok Irlandia maupun bahkan kakaknya, Brendan, dan tentu saja band mereka, Sing Street, karakter Conor berkutat pada orang-orang ini. Kakaknya membantunya tahu lebih banyak soal seluk beluk musik, dan Eamon selalu mengiring Conor dalam membuat lagu. Film ini juga mengusung tema coming-of-age, yang bisa diartikan sebagai fase mencari jati diri. Kerap kali untuk mencari jati diri, Conor dan kawan band-nya mengganti penampilan seperti The Cure atau David Bowie. Disampaikan secara tampilan karakter dan juga dialog, Sing Street berhasil membentuk karakter Conor sebagai relatable berkat tokoh-tokoh pembantu yang “mengasuhnya”.

Baca Juga:  Review Resident Evil: The Final Chapter, A Not Bad Ending From The Most Successful Game Movie Franchise Ever (So Far)

Peranan musik di sini juga bukan main-main. Tidak hanya sekedar “musikal” dengan lagu-lagu yang berlirik gamblang dan susah dijadikan playlist di hape, namun alunan nada dan lirik dalam film selama 105 menit ini menceritakan kisahnya masing-masing secara tersirat, utamanya soal Conor dan Raphina. Meskipuna anehnya, semua lagu diciptakan oleh Conor pasti menjadi hit semua. Hit di sini dalam artian menjadi lagu yang benar-benar sempurna dan hebat. Mungkin masalah durasi yang tidak cukup, atau karena sutradara tidak sudi menggunakan adegan montage, tetapi progres karakter tidak selalu didapatkan lewat koneksi emosional. Perjalanan mereka untuk membuat lagu dari yang benar-benar payah hingga menjadi lebih baik perlu menjadi salah satu pegangan untuk membuat film lebih dapat dipercaya. Kalaupun ada adegan terkait di mana Conor menunjukkan ketidaksempurnaan karyanya, itu saja lagunya sudah bagus dan terancang dengan baik. Meski begitu, ada penjelasan ketiga untuk fenomena ini: Conor adalah orang yang sangat bertalenta dan karena ini film “musikal”, jadi siapapun bisa buat musik asal dikehendaki pengarang.

mpc-hc 2016-08-14 14-46-55-19.png

Tapi serius, peranan musik di sini bukan main-main. Semua lagu menyampaikan karakternya masing-masing. Lewat lagu Riddle of the Model, Conor berusaha menebak-nebak karakter Raphina yang begitu misterius, namun lebih dari itu, ia sadar kalau pesona akan menghilang ketika ia mengenal seseorang lebih dekat. Selain cerita tentang paradoks ini, Drive It Like You Stole It yang hadir di bagian film lainnya mengungkapkan kegundahan Conor akan kehidupannya dan bagaimana ia ingin kabur dari kota tinggalnya untuk memulai awal yang baru. Lagu-lagu ini dikemas dengan nada britpop 80-an yang warna suaranya bisa dihubungkan di karya-karya masa kini; contohnya Riddle of the Model yang dari suaranya bisa jadi salah satu lagu andalan band Franz Ferdinand. Secara keseluruhan bisa dinikmati, meski bukan itu fungsi lagu-lagu ini sebenarnya.

Baca Juga:  Review Film Batman V Superman : Dawn of Justice - Welcome To The Justice League

Adegan kunci dalam film ini justru ada di dalam video klip Sing Street. Pesta dansa sekolah, jas rapih, gaun yang menawan, semua ada di dalam video klip ini. Orang-orang terdekat Conor seperti orangtuanya, saudaranya, dan yang paling penting, Raphina, semuanya diundang dalam pesta ini. Atmosfir dalam video klip terkesan sangat bahagia. Tidak ada gundah ataupun sedih, hanya ada Sing Street menyanyikan lagu-lagunya — yang meski sempat diganggu oleh pertengkaran kecil namun tiba-tiba berakhir damai — melanjutkan kebahagiaan yang ada di sepanjang video. Namun sebaik imajinasinya, adegan berganti secara drastis lewat perbedaan tone warna dan tema suara yang ceria tiba-tiba menjadi sunyi. Ini adalah sisi Conor yang ingin diwujudkan di film ini. Musik, dalam pikiran Conor, adalah ketika semua orang yang ia sayangi menjadi akur dan melupakan semua yang ada di dalam masalah nyata. Conor ingin agar semua yang ia impikan menjadi seperti di video klip, meskipun sekali lagi, ini adalah dunia nyata. Di sini Sing Street benar-benar membuat tema perceraian rumah tangga dan musik menjadi satu hal yang, happy-sad.

Sebaik apapun kelihatannya, tetap saja Sing Street terasa seperti film yang tidak ingin terlalu serius pada dirinya sendiri. Dibandingkan dengan karya John Carney seperti Begin Again, dua-duanya memiliki atmosfir yang cukup mirip. Di tengah masalah yang ada di tengah film, John berusaha untuk tidak membuat film ini terlalu kelam. Entah lewat musik bahagia, unsur cerita yang membawa kabar gembira bagi tokoh utama, atau mungkin lewat adegan-adegan penuh canda, semua itu hadir di Sing Street untuk menyeimbangkan suasana film sesuai keinginan John Carney, meskipun pada kenyataannya hal ini yang membuat Sing Street maupun Begin Again sulit menjadi film nomor 1 bagi saya.

Baca Juga:  Film Transformers Terbaru Mendapat Hujatan dari Kritikus

mpc-hc 2016-08-14 13-57-55-75.png

Untuk meringkas semuanya, tentu saja perlu diakhiri dengan bagaimana Sing Street  berjalan secara keseluruhan. Alurnya menyenangkan untuk diikuti, tidak ada momen di mana kalian harus bosan karena menunggu intrik atau bahkan romansa yang tidak kunjung datang. Film ini dipenuhi dengan adegan-adegan seru dan bahagia, yang meskipun begitu tetap mengisi dengan sentimen-sentimen soal jalan hidup yang tidak pasti atau mimpi yang tidak kunjung datang.  Cerita dibalut dalam setting Dublin tahun 1985, di mana musik new wave dan britpop adalah pondasi utama karakter secara optimal. Semua dipertaruhkan dalam nama musik, dan bagaimana musik membantu tokoh dalam film untuk menjadi orang yang lebih baik juga menemukan jati diri.

The big thing for me is I wanted to make a musical but I didn’t want anyone to know it was a musical, and I didn’t want to put the word musical on the poster. So it’s a stealth musical; it creeps up on you – it doesn’t seem like one, but it actually is. I felt that a really necessary part of making a modern musical is that it doesn’t have any of the traditional recognisable tropes of the older musicals, which I love, many of them. Films where the music moves the drama along, it doesn’t just break from the drama, but actually the music is as important as the dialogue and moves the characters and the plot along.
– John Carney (2016)

TAG