[Review] Jigsaw

5046

jigsaw-reviews-2017-1041540-1280x0

Jigsaw

A New Games Begins

(Lionsgate Pictures)

US Release date: October 27, 2017

Director: Peter Spierig, Michael Spierig

Starring: Tobin Bell, Mandela Van Peebles, Hannah Anderson, Laura Vandervoort, Brittany Allen, Callum Keith Rennie, Matt Passmore, Hannah Emily Anderson, Josiah Black, Shaquan Lewis, Michael Bolsvert, James Gomez

John Kramer: Now the games are simple. Best ones are. You want mercy? Play by the rules.

            Tahun 2017 memiliki makna tersendiri bagi kalangan penyuka film horor. Hal ini dikarenakan pada tahun ini terhitung beberapa franchise horor lawas hadir kembali dalam versi paling gresnya. Baik itu dalam format lanjutan, remake, maupun reboot. Setelah beberapa waktu lalu, The Mummy, It, dan Leatherface dari saga Texas Chainsaw Massacre hadir kembali di layar perak, kali yang mendapat giliran adalah Jigsaw.

Mengenai film ini sendiri, meski di belantika horror umur franchise Saw bisa dibilang masih seumur jagung, judul ini bukanlah perihal yang asing. Pasalnya, sebelum pamornya mulai meredup memasuki installment keenamnya dirilis, saga horor thriller generasi X adalah predikat yang disandangkan pada franchise ini.

Betapa tidak, apabila dibandingkan dengan berbagai kisah sejenis yang dibuat dalam kurun waktu sama, saat itu tidak ada yang bisa menyamai kebesaran saga yang mempopulerkan tokoh Jigsaw ini. Sejak pertamakali dirilis pada tahun 2004 lambat laun Saw beserta sekuel-sekuelnya menjelma menjadi cult bagi para penikmat film khususnya penyuka genre gore dan thriller horror. Belum lagi pendapatannya, yang setiap installment-nya selalu mencapai raihan $100 juta, sebelum Saw VI, yang membuat pihak kreator mengakhiri saga ini melalui Saw: The Final Chapter atau lebih dikenal sebagai Saw 3D, tujuh tahun lalu.

            Boleh jadi kebangkitan saga-saga horor lawas di tahun 2017 ini yang kemudian membuat pihak kreator menghadirkan lagi satu kisah lanjutannya ini. Sekarang berjudul Jigsaw dari judul sebelumnya yang diusung, Saw: Legacy, film ini akan digawangi oleh duo sutradara kakak-beradik Michael dan Peter Spierig. Berdasarkan pitch yang disusun Josh Stolberg (Good Luck Chuck, Piranha 3D, The Hungover Games) dan Pete Goldfinger, installment kedelapan ini akan menjadi pembentuk fondasi baru dari franchise Saw, dengan menghadirkan alur cerita dan karakter-karakter baru, meski di satu sisi juga masih berkaitan dengan film-film babak sebelumnya.      

            Dikisahkan, setelah kepolisian setempat kembali dipusingkan dengan kasus kematian misterius, di mana mayat-mayat ditemukan di sekeliling kota. Dari hasil otopsi ditemukan  kesamaan antara satu sama lainnya, yakni penyebab kematiannya adalah metode penyiksaan yang unik, seperti yang pernah dihadapi pihak kepolisian saat menangani apa yang dikenal sebagai kasus Jigsaw.

Baca Juga:  Review Film Mother’s Day - Kesempatan Ketiga Garry Marshall

Situasi semakin bertambah rumit, karena seiring penyelidikan berjalan, bukti-bukti mengarah kuat pada sosok seseorang: John Kramer. Namun, bagaimana mungkin? Pasalnya pria yang dikenal sebagai Jigsaw itu sudah tewas selama lebih dari satu dekade. Apakah ada murid sang sosiopat yang kemudian menjadi pewaris Jigsaw,  yang mungkin bahkan seseorang di antara para anggota kepolisian sendiri?

Itulah garis besar cerita yang diketengahkan kali ini. Bila ditilik dari segi jalan cerita dan formatnya, Jigsaw ini masih mengusung formula yang telah disajikan pada kisah-kisah pendahulunya, Uniknya, meski sudah menjadi rahasia umum bahwa tokoh ikonik film ini, Jigsaw telah diceritakan tewas pada film ketiga, installment terakhir Saw ini masih akan menampilkan sosok John Kramer, yang anehnya lagi peranannya masih terbilang dominan.

Sudah bukan rahasia lagi, daya tarik utama saga ini apalagi jika bukan tambahan informasi dan jawaban-jawaban pertanyaan yang muncul pada kisah-kisah Saw terdahulu. Sedangkan, jika ditilik mengenai prospek kesuksesannya, rasanya Jigsaw besar kemungkinan akan sanggup melanjutkan kedigdayaan film-film Saw sebelumnya.

Mengingat reputasi besar yang sudah disandangnya serta tentunya daya tarik dan stimulus mengenai akan bagaimana cakrawala baru yang akan dihadirkan oleh tim kreatif Spierig bersaudara ini pada saga horor yang terkenal kerap menampilkan berbagai permainan maut kreatif yang bisa membuat penonton menahan napas menanti kejutan apa yang akan terjadi, selain sarana penyiksaan yang tentunya sangat tidak lazim.

Satu hal yang pasti, jika film ini kemudian ternyata sukses, tidak usah heran jika kelak mungkin akan muncul lagi beberapa kisah lanjutannya di masa yang akan datang, sampai jika  kalangan penikmatnya atauppun pihak kreatornya sendiri menjadi jenuh dengan saga yang penuh adegan penyiksaan yang kejam dan sadis ini.[Loe2Tea]

Baca Juga:  Review Film Bangkit - Good Effect, Bad Story

Similar Movies:

  • Hostel
  • Copycat
  • Captivity
  • Se7en
  • Turistas

Jigsaw´s Toys: The Torturer Gadgets from The Saw Series

Salah satu ciri khas dan fokus utama dari rangkaian kisah Saw adalah berbagai macam jenis jebakan sadis yang dibuat khusus oleh Jigsaw beserta apprenticenya Amanda bagi para korban-korbannya. Jigsaw juga selalu meninggalkan petunjuk bagi pihak berwajib, di mana ia selalu membuat potongan kulit berbentuk kepingan puzzle, yang diambilnya dari kulit tubuh korban yang gagal dari permainan hasil rancangannya.

Berbagai jebakan ini, yang kerap disebut juga permainan atau tes, bisa berbentuk dua macam. Yang pertama adalah jebakan di mana alat siksaan itu dipasangkan pada tubuh korbannya, yang bisa mengakibatkan derita yang sangat fatal atau kematian jika alat tersebut tidak bisa dilepaskan korban dalam jangka waktu yang telah ditentukan. Sedangkan yang kedua bisa meliputi sebuah area yang sudah diorganisir oleh Jigsaw, di mana korban harus melarikan diri dari area itu serta penentu keberhasilannya adalah dengan berinteraksi dengan orang (korban) lainnya.

Jigsaw 101

Who is John Kramer?

As peresented in: Saw:Rebirth (Comic)

Sebelum mengetahui bahwa dirinya mengidap penyakit kanker, John menjalani hari-harinya dengan bekerja di toko mainan dan menganggap hidupnya membosankan. Ia kemudian mengalami kegagalan dalam hubungan rumahtangganya dengan istrinya Jill, disebabkan ketakutannya untuk berkomitmen.

Tahun-tahun pun berlalu, tubuh John mulai digerogoti penyakit. Ia lalu mendatangi Dr Lawrence Gordon, dan diinformasikan bahwa ia ternyata mengidap penyakit kanker dan dikatakan bahwa ia akan mati. Depresi karena merasa telah menyia-nyiakan hidupnya yang tidak lama lagi, ia bertemu dengan seorang perawat pria bernama Zep, yang membawanya keliling rumah sakit. John yang merasa hidupnya tinggal sebentar lagi menjadi lebih memperhatikan hidup orang lain. Ia lalu bertemu dengan deretan orang yang dianggapnya telah menyia-nyiakan hidup: seorang con artist (Mark), gadis muda yang overdosis akibat heroin (Amanda), dan yang paling mencengangkan John adalah Paul; sesama pegawai yang mempunyai karier yang baik, istri dan anak-anak –dengan kata lain kehidupan yang ideal, namun melakukan percobaan bunuh diri dengan mengiris urat nadinya.

Baca Juga:  Review Film Frank - Idealisme Seorang Seniman

Merasa sudah cukup, John lalu memutuskan bunuh diri dengan menabrakkan kendaraannya ke jurang, tapi ia berhasil selamat. Karena hal inilah ia menerima takdirnya, John merasa dilahirkan kembali dan memulai misinya untuk membuat orang-orang lebih menghargai hidupnya. John lalu bekerja keras, melakukan berbagai riset, dan menciptakan berbagai alat untuk menguji kehidupan orang lain berdasarkan permasalahan yang dialami oleh masing-masing korbannya.

Prediction

Story: 3 / 5

Star Factor: 2.5 / 5

Director: 3 / 5

Box Office: 4 / 5