Review Film X-Men: Apocalypse – Kemegahan yang Kurang Sempurna

73

Review Film X-Men: Apocalypse
Ini adalah artikel review dari komunitas Cinemags dan tidak mencerminkan pandangan editorial Cinemags. Andapun bisa membuat artikel serupa di sini.
linebreak-720x40

“What if the war is inevitable?”

Kutipan di atas diambil dari perkataan Hank McCoy pada film X-Men sebelumnya, Days of Future Past. Hal ini menurut saya benar-benar terbuktikan pada sekuelnya yang baru saja dirilis, X-Men: Apocalypse. Setelah harus kembali ke masa lalu untuk mencegah pembunuhan Bolivar Trask dan penciptaan robot antimutan Sentinel, kini para mutan harus siap menghadapi “nenek moyang” para mutan, yakni En Sabah Nur. Ia adalah sosok misterius yang memiliki berbagai macam kekuatan mutan dan disembah oleh berbagai kaum di muka bumi sebagai Tuhan di masa lalu, dan terbangun pada tahun 1983, sepuluh tahun setelah Days of Future Past berlangsung. Ia merekrut empat mutan: Magneto, Angel, Psylocke, dan Storm, yang dilabeli sebagai Four Horsemen dan mulai beraksi meneror dunia. En Sabah Nur berencana membersihkan dunia dan membangun dunia yang baru sesuai kemauannya.

Di film ini, rookie yang baru bergabung adalah Oscar Isaac sebagai En Sabah Nur, Tye Sheridan sebagai Scott Summers, Sophie Turner sebagai Jean Grey, Olivia Munn sebagai Psylocke, Kodi Smit-McPhee sebagai Kurt Wagner/Nightcrawler, Alexandra Shipp sebagai Storm, Ben Hardy sebagai Angel, dan Lana Condor sebagai Jubilation Lee/Jubilee. Rose Byrne kembali memerankan agen CIA Moira MacTaggert dari film X-Men: First Class.

Dari segi visual effects dan music score, film ini patut diacungi dua jempol, dengan keberhasilannya menggambarkan dunia yang hancur akibat ulah En Sabah Nur dan Four Horsemen, serta “ditemani” oleh musik yang apik. Namun, dari segi plot cerita, ­X-Men: Apocalypse minim aksi dan terlalu banyak bertabur drama, tidak seperti predesesornya. Karakter yang ada juga kurang dikembangkan ceritanya, seperti mengapa En Sabah Nur, secara tiba-tiba, dikhianati pengikutnya sendiri pada awal film. Four Horsemen juga digambarkan tidak begitu jelas, dengan relasi antar-teammate yang kurang menonjol. Seharusnya, sebagaimana para antagonis yang bekerja secara berkelompok di film-film lain, film ini menggambarkan bagaimana para Four Horsemen dan En Sabah Nur menyusun rencana penghancuran dunia, sehingga penonton tidak menganggap para Horsemen sebagai budak yang mau-mau saja menjalankan kemauan sang tuan. Four Horsemen juga hanya sedikit beraksi dan seakan-akan En Sabah Nur melakukan one-man show. Yang saya sayangkan pula adalah tokoh Jubilee yang penampilannya hanya sebentar dan tidak ikut beraksi. Padahal, sesuai dengan yang ada di komik, kemampuannya bisa membantu para X-Men.

Scene stealers yang patut diapresiasi dalam film ini adalah Sophie Turner dan Evan Peters, yang kembali memerankan Peter Maximoff. Turner tampil mengesankan sebagai Jean Grey, yang tampak lebih dewasa dan tidak volatil, berbeda dengan film X-Men 2 dan X-Men: The Last Stand. Peters juga kembali mencuri perhatian dengan aksi lari cepatnya yang menyelamatkan puluhan orang dalam waktu sekejap. Cameo dari Hugh Jackman sebagai Wolverine meskipun sebentar juga dapat mencuri perhatian penonton.

Film ini bisa menjadi film yang menarik untuk Anda, dan jangan lupa, stay in your seat until the end, karena bakal ada sesuatu yang menarik dan menentukan kelanjutan cerita X-Men.