Review Film Wonder Woman

1631

Review Film Wonder Woman

Sebelum memulai Review Film Wonder Woman ini, bagi para penikmat film superhero pasti mengamini bahwa sejak pencanangan DCEU yang ditujukan sebagai ‘pesaing’ MCU, WB terlihat agak kerepotan mencari formula tone yang pas untuk kepingan-kepingan DCEU. Hal ini dikarenakan sumbangsih Christopher Nolan dengan trilogi The Dark Knightnya yang kelam, dan juga Watchmen besutan Zack Snyder yang meski pendapatan komersialnya tidak menggembirakan, namun masih diakui sebagai salah satu hasil adaptasi komik DC terbaik, membuat kadung tone ini seakan menjadi identitas karateristik film-fim superhero DC.

Namun, selain itu, bisa dibilang film-film DC nasibnya babak belur, terutama dari pandangan kritikus, meski beberapa di antaranya pendapatan komersialnya lumayan menggembirakan. Coba saja telusuri performa box office dan review-review Jonah Hex, Green Lantern, Man of Steel, Suicide Squad, dan juga Batman v Superman yang kubu lovers maupun hatersnya berimbang.

Permasalahan yang paling kentara adalah tidak acheterdufrance.com seperti halnya Marvel yang bisa dikatakan sudah menemukan formula keberhasilan mereka, DC dengan DCEUnya terlihat kesulitan menemukan formula seimbang antara nuansa kelam yang ibarat sudah menjadi karakteristik mereka dengan sentuhan ringan, keseriusan dan humor, kedalaman kisah dan unsur yang menghibur. Pendeknya, mereka masih menantikan momentum tersebut. Untungnya, kepingan paling gres dari DCEU, bisa memupus problematika tersebut.

Adalah lewat tangan sineas wanita Patty Jenkins, proyek solo Wonder Woman, yang kehadirannya langsung mencetak beberapa prestasi bersejarah, mampu membuat DCEU kembali menyiratkan adanya harapan ke arah yang membaik lewat hasil arahannya ini. Menariknya, kebangkitan DCEU ini dipicu oleh seorang tokoh superhero wanita dan sineas wanita yang ibarat memperlihatkan bagaimana seharusnya sebuah film superhero dikemas.
Sama halnya dengan fungsi proyek solo Thor dan Captain America dalam MCU, Wonder Woman diperuntukkan sebagai andalan DCEU di lini depan selain Batman dan Superman, yang sudah memiliki nama besar sejak lama di kancah perfilman. Bedanya, lain halnya dengan dua koleganya tersebut, ini merupakan kali pertama kehadiran film solo layar lebar Wonder Woman sejak awal kelahirannya di ranah komik 75 tahun yang lalu.

Meski demikian, tokoh yang diperankan aktris asal Israel Gal Gadot ini sudah lebih dulu hadir sebagai salah satu tokoh pendukung di BvS dan juga dapat kembali dinikmati dalam Justice League, aksi parade superhero paling terkemuka dunia DC lainnya, yang jika tidak mengalami perubahan rilis, akan hadir di bulan November nanti.
Laiknya film proyek perdana, film yang untuk peredarannya di Indonesia mendapat sub judul tambahan Rise of the Warrior ini menyoroti asal usul Wonder Woman sebagai salah satu superhero pelindung umat manusia dan bagaimana awal perjumpaannya dengan Steve Trevor yang memicu pada sepak terjangnya di dunia manusia, sebelum ia kemudian berjumpa dengan Batman dan Superman untuk kemudian bahu-membahu melawan Doomsday, dan nantinya berkolaborasi dengan para metahuman lainnya sebagai anggota grup koalisi superhero, Liga Keadilan.

Babak awal perkenalan Diana dengan dunia luar inilah yang sukses membedakan Wonder Woman dengan tone ultra-serius film DC lainnya. Apalagi ini ditunjang dengan performa apik Gadot sebagai sosok Diana yang masih lugu dan naif. Hal ini memungkinkan sang sineas menghadirkan skenario humor terutama yang menyangkut politik gender.
Difungsikan tidak ubahnya tumpuan harapan upaya kebangkitan DCEU dari keterpurukan dan menarik simpati khalayak perfilman apalagi sebagai materi komik DC yang populer namun baru kali ini diangkat ke kancah layar lebar, sudah tentu tantangan yang dihadapi Patty Jenkins sangatlah besar meski tidak bisa dikesampingkan pula bahwa ia juga mendapat keuntungan yakni daya tarik kisah WW yang sangat kuat menarik penonton.

Meski awalnya diragukan, Jenkins di sini menunjukkan kapasitasnya bahwa ia adalah sosok yang tepat membidani film ini. Seperti pernyataannya bahwa merupakan impiannya untuk bisa memfilmkan Wonder Woman, Jenkins kentara menyutradarainya dengan sepenuh hati dan betapa ia sangat mencintai karakter ini.

Mengawali dengan setting Themyscira, pulau asal usul sang heroine, sang sineas tidak tergesa-gesa dalam menuangkan kisahnya, seperti seorang ibu yang dengan sabar mendongeng kepada anaknya, semua mengalir secara wajar. Sungguhpun demikian, jalinan kisah yang diketengahkan dalam film tetap fokus dan tidak menjemukan. Demikian pula dengan dialognya, yang sarat dengan humor-humor segar, terutama antara Diana dan Steve, yang membuat dua pemainnya Gadot dan Pine bisa terlihat mampu menciptakan chemistry yang apik. Berbeda pula dengan pendekatan yang dianut oleh Snyder selaku sosok yang bisa dibilang sebagai “wajah” DCEU sebelumnya yang kemudian juga sepertinya diadaptasi oleh Ayer, yakni teknik penuangan storyline yang agak rumit dan bercabang, Jenkins dengan pintar menuangkannya dengan alur satu garis yang sederhana dan mudah dicerna penonton awam sekalipun.

Tidak hanya unsur dramanya, Jenkins juga mampu menghadirkan kemasan aksi yang pas untuk karakter Wonder Woman ini dengan kualitas setara aksi klimaks film-film Marvel namun tidak terasa berlebihan. Lewat besutannya ini ia mampu membuat Gal Gadot semakin terlihat sebagai Wonder Woman dan seakan memang terlahir untuk memerankannya.
Jika boleh dibandingkan, meski dari segi sajiannya Wonder Woman ibarat penggabungan Thor dengan Captain America: The First Avenger, apa yang berhasil dicapai Jenkins tidak ubahnya apa yang dihasilkan Tim Miller lewat Deadpool, minus rating-R. Seperti tadi sudah disinggung sebelumnya, nilai plus dari Wonder Woman ini adalah Jenkins mampu menuangkannya secara pas. Jadi perlu diingat bahwa sejatinya, film ini dari sajian visualisasi, adegan aksi, maupun penceritaannya tidak lah luar biasa dibandingkan dengan film-film genre serupa, namun penuangan cermat itulah yang membuat Wonder Woman works, apalagi jika dibandingkan dengan bentuk film-film kepingan DCEU lainnya, di mana dalam mewujudkannya warna berbeda yang dihadirkan Jenkins di sini terbukti malah sukses memberi angin segar.