Review Film The Witch – Teror Penyihir Abad Pertengahan

59

the witch
Ini adalah artikel review dari komunitas Cinemags dan tidak mencerminkan pandangan editorial Cinemags. Andapun bisa membuat artikel serupa di sini.
linebreak-720x40

“The Witch scared the hell out of me. And it’s a real movie, tense and thought-provoking as well visceral”

Begitulah cuitan Stephen King, seorang master dari cerita horor, tentang film The Witch. Kalau sang master saja sampai ketakutan melihat sebuah film, anda tahu kalau itu adalah film yang spesial.

Ini adalah film bertema penyihir dengan cerita paling segar selama bertahun-tahun ke belakang. Kebanyakan film tentang penyihir merupakan film fantasi anak atau remaja, disneyesque. Kalaupun sebagai film horor, mayoritas berlatar di jaman modern. The Witch bukanlah film seperti itu. Berlatar tahun 1630, 62 tahun sebelum peristiwa “Salem Witch Trails” – yang sering menjadi dasar cerita film horor.

Film ini bercerita bagaimana teror yang disebar penyihir pada masa “kejayaan” mereka. Sang penulis sekaligus sutradara, Robert Eggers – ini merupakan film panjang pertamanya – sampai melakukan riset tentang sejarah penyihir pada masa itu, lewat jurnal hingga catatan pengadilan. Bahkan dialognya juga dicocokkan pada periode waktu itu.

Semua berawal ketika keluarga William yang diperankan oleh Ralph Ineson (Game of Thrones) harus diusir dari desa mereka karena menentang gereja – keluarga William adalah penganut Kristen puritan yang sangat taat. Mereka lalu membangun sebuah peternakan di pinggir hutan, tapi kehidupan berjalan sulit bagi keluarga dengan lima anak itu. Hasil panen jagung mereka banyak yang rusak. Cobaan bertambah berat ketika bayi mereka Samuel, hilang ketika diasuh oleh kakak tertuanya Thomasin (Anya Taylor-Joy). Tapi semua itu hanyalah permulaan saja. Ketika teror semakin memuncak, iman merekapun diuji dan mereka mulai bersitegang satu sama lain. Persediaan makanan yang menipis dan tensi yang meningkat membuat Thomasin dan adiknya, Caleb (Harvey Scrimshaw), nekat masuk ke dalam hutan untuk berburu. Sebuah keputusan buruk dari mereka, tapi kado terindah bagi para penonton. Karena setelah itu, semuanya akan menggila.

Para cast dari film ini bermain dengan sangat solid. Ralph Ineson sebagai kepala keluarga harus memimpin keluarganya melewati teror ini. Kate Dickey (Game of Thrones) berakting dengan meyakinkan sebagai ibu yang berduka dan tertekan karena masalah bertubi-tubi yang menimpa keluarganya. Karakter Caleb, seorang remaja yang mulai merasakan kegalauan akibat hidup terpencil bersama keluarga puritan, berhasil dibawakan dengan baik oleh Scrimshaw. Kredit juga untuk Ellie Grainger dan Lucas Dawson yang bermain sebagai si adik kembar. Tapi bintang utamanya tentu saja Taylor-Joy. Bermain luar biasa sebagai poros utama film ini. Tidak akan mengejutkan jika di masa depan dia mendapat panggilan dari Nick Furry atau Profesor X untuk masuk ke tim mereka.

Keberhasilan utama dari film ini adalah bagaimana sang sutradara berhasil mengatur tempo dengan sangat baik. Ini bukanlah film horor dengan hantu yang muncul tiba-tiba ataupun musik mengagetkan untuk menakuti penonton. Tidak seperti itu. Berawal dari tragedi keluarga kehilangan bayi mereka, berubah menjadi teror penyihir yang mendebarkan, Robert Eggers berhasil menatanya dengan apik. Ini memanglah film dengan alur yang lambat. Tapi justru disitulah letak kekuatannya. Eggers membangun ketegangan sedikit demi sedikit yang akhirnya memuncak di endingnya. Dan ketika semua selesai, anda hanya bisa bertepuk tangan ataupun mengumpat karena anda tahu bahwa baru saja menyaksikan film yang brilian.