Review Midnight Show – Pertunjukan Berdarah di Bioskop yang Terancam Bangkrut

395

Review Film Midnight Show

Darah melumuri tangan dan kaos putih Bagas. Dengan ekspresi yang datar, ia menatap ibunya yang  tergeletak tepat di depannya. Tak ada rasa takut, marah atau pun sedih yang terpancar dari wajah seorang anak kecil.  Pisau yang digenggamnya terus  meneteskan darah ibunya yang telah terbujur kaku. Ia telah tertidur, ujarnnya sambil menatap kamera, seakan ada seseorang yang membisikinya dari sana. Kemudian, dengan tenang ia melangkahkan kaki mungilnya memburu sisa keluarga yang tersisa. Langkah kecilnya itu  serupa langkah malaikat pencabut nyawa, sunyi, namun mematikan…    

Sebagai opening sebuah film thriller-slasher, film Midnight Show cukup berhasil membangkitkan bulu kuduk saya berdiri. Film arahan Ginanti Rona Tembang Asri ini menyuguhkan darah dengan cara yang tergolong lembut, namun meneror. Ia tidak  mengeksploitasi pembunuhan dengan hujan darah, ia menyuguhkan teror dengan jalinan cerita yang penuh misteri.

Untungnya, walaupun mengusung  genre yang  berani dan langka, tidak lantas membuat film keempat Renee Pictures ini  bermodalkan sekedar beda. Sutradara  yang pernah berguru kepada Gareth Evans (The Raid) dan Mo Brothers (Killers) ini membuktikannya dengan hasil yang terbilang mempesona sebagai debut penyutradaraanya di film bioskop.

Setidaknya, ada dua hal yang sangat menonjol dalam film yang mulai tayang 14 Januari 2016 ini, yaitu cerita dan akting. Sejak film dimulai, naskah yang digarap oleh Husein Atmojo ini telah memancing rasa penasaran. Mengapa ada seorang anak kecil membunuh keluarganya sendiri? Kemudian cerita ini mengalir memaparkan tentang kehidupan bioskop yang  terancam bangkrut, serta gejolak konfik pembunuhan di dalamnya.

Penulis yang akrab disapa Monji ini tetap menyajikan cerita  yang cerdas di tengah gempuran sensor dalam filmnya.  Film yang bercerita tentang pembunuhan dalam bioskop ber-setting tahun 90’an ini tidak sekedar membunuh dan dibunuh. Ada motif yang  melatari pembunuhan tersebut, meskipun harus diakui tak semuanya terbilang kuat pada tiap korbannya. Kemudian  twist yang dihadirkan bisa dibilang ciamik dan cerdik, serta konsep film dalam film yang divisualkan oleh Director of Photography, Joel F. Zola membuat  saya tetap bertahan di kursi bioskop, hingga layar  hampir kembali memutih.

Dari sisi akting,  horor atau yang mengaku bergenre thriller sering sekali terkendala dalam tataran akting. Hal ini terjadi tidak hanya terjadi di Indonesia, namun juga di luar, termasuk Holywood. Banyak pemain yang gagal merasakan dan menularkan rasa takut dalam filmnya sendiri, namun tidak dengan film ini. Banyak adegan dalam film yang dibintangi oleh Gandhi Fernandho, Acha Septriasa, Ganindra Bimo mampu keluar dari persoalan tersebut. Bahkan dalam film ini juga merupakan penampilan terbaik bagi Bimo, dan Gandhi sepanjang karirnya, sejauh ini.

Berbeda dengan film sebelumnya Gangster, Bimo diberikan kesempatan untuk membangun karakternya, tidak menjadi sosok yang sok misterius. Ada sebab-akibat yang membuatnya menjadi seperti itu, sehingga ketika ia  mencurahkan segala emosinya dalam perannya membuat aktingnya semakin memukau. Mungkin bila diberikan sedikit lagi pengembangan karakternya, pemeran sutradara Bocah ini layak dinominasikan sebagai  aktor terbaik.

Di sisi lain, aktor yang merangkap sebagai produser ini pun naik kelas dari segi akting.  Pria kelahiran 25 tahun silam ini mulai belajar dari kesalahannya yang terdahulu. Akting kaku sudah  sulit ditemukan, aktingnya jauh lebih baik.   Hanya saja yang perlu diperbaiki oleh Gandhi (Juna) adalah penghayatan sedih dan takut yang kurang menyakinkan. Misalnya saat kehilangan seseorang yang merupakan panutannya sejak kecil. Kesedihan yang ditunjukannya kurang digali, karena yang terlihat justru seakan belum lama kenal.  Dalam beberapa adegan pun ia masih terlihat pura-pura takut, belum benar-benar takut. Dengan kata lain, pada bagian itu ia belum  maksimal menyerap teror ke dalam dirinya.

Sementara Acha tetap mempesona lewat aktingnya. Aktris yang biasanya berperan dalam film drama maupun religi ini ditantang  menggali lebih dalam kemampuan aktingnya. Meskipun pertama kali bermain di ranah thriller, pemeran Naya ini  membuktikan bahwa kelihaian aktingnya tidak hanya tertuang di genre yang biasa dimainkannya. Begitu juga dengan Ratu Felisha, Daniel Topan, Arthur Tobing, Ronny  P. Tjandra, dan Gesata Stella lumayan baik dari sisi akting. Beda halnya dengan Boy Harsha (Ikhsan) yang sangat  biasa aktingnya dibanding lainnya.

Bicara tentang thriller-slasher tentu omong kosong bila tanpa darah. Seperti yang saya paparkan, suasana mencekam telah dimulai dari menit-menit pertama.  Darah yang berceceran lewat pisau tidak begitu banyak membanjiri lantai maupun pakaian, tapi lumayan cukup membangkitkan rasa ngeri.

Namun, sayangnya ada faktor lain yang membuat film ini hampir kehilangan tajinya. Adegan-adegan yang seharusnya melahirkan rasa takut yang berkepanjangan dan mual justru hilang dicuri lembaga sensor. Dengan segala keterbatasannya, potongan berdarah yang tersisa ini berjuang menakuti penonton dengan tertatih.   Karena itu juga, editing yang diolah oleh nominator editing terbaik FFI 2010, Andhy Pulung pun terasa jadi kasar setelah pengguntingan tersebut.

Berbeda dengan yang saya tonton pertama kali, ketika  masih memiliki kekuatan lebih sebagai film thriller, namun setelah disensor tiga kali, film ini terasa menjadi biasa saja bila dibandingkan dengan  film  luar yang mendapatkan haknya sebagai sebuah film atau pun film pendahulunya, Rumah Dara. Film ini hampir ditelanjangi atributnya sebagai film yang menakutkan.

Tentu hal ini bukan kesalahan dari pembuat film, namun ada faktor lain yang akhirnya menjadikannya seperti itu. Namun, sebagai penonton tentu tidak perduli dengan alasan sensor tersebut. Bagaimana pun  juga itu  adalah konsekuensi yang harus diterima dengan lapang dada.

Di sisi lain, terlepas dari persoalan sensor. Ada banyak pertanyaan yang tak terjawab dalam film ini. Jawaban yang dibiarkan menjadi misteri. Misalnya kenapa hakim, jaksa, dan media hingga bertindak nekat seperti itu, ada apa di balik itu? Dan masih ada lagi yang memacu otak berpikir keras. Bisa dibilang penonton dibiarkan melanjutkan dan memecahkan banyak pertanyaan itu sendiri dengan imajinasi dan argumennya masing-masing.

Walaupun begitu, secara keseluruhan film ini tetap menarik untuk ditonton,  karena selain didukung dengan akting dan cerita yang baik, film yang direncanakan mengikuti berbagai festival film internasional ini juga menyumbangkan musik dan sinemathografi yang lumayan mencekam. Selain itu, entah kapan lagi ada film Indonesia dengan genre yang seperti itu, sehingga  patut diapresiasi lebih agar banyak film thriller-slasher yang bermunculan. 

 

Penyutradaraan: 3.5/5

Cerita: 3.5/5

Akting: 3.25/5

Sinematografi: 3/5

Editing: 3.5/5

Musik: 3/5