Review Film Foodfight! – Yang Terburuk

43

Review Film Foodfight!

Di ranah perfilman, genre film animasi adalah genre yang memiliki rasio kegagalan paling rendah dibading genre-genre film lainnya. Terlebih, jika rating yang ditujukan memang untuk pangsa pasar semua kelompok umur, yang logikanya membuat cakupan potensial untuk meraih pundi-pundi yang banyak sudah tentu jauh lebih besar dengan genre film lainnya yang hanya bisa disaksikan oleh batasan umur tertentu.

 Dan, nyatanya memang demikian, meski memang harus diakui bahwa proses pembuatannya tidak mudah dibanding film yang mengusung format live action, buktinya film-film animasi layar lebar yang dirilis beberapa tahun belakangan ini hampir kesemuanya mampu hadir memuaskan dan tampil impresif, baik dari segi raihan finansial maupun dari segi kualitasnya. Bahkan, kalau mau diusut-usut lagi, sejak film animasi layar lebar pertama kali hadir, sangat jarang kita mendapati film animasi dikemas atau menuai hasil yang hancur-hancuran. Maka, berbarengan dengan momen menjelang perilisan film animasi Big Hero Six, terbersit pertanyaan menggelitik, apa film animasi terburuk yang pernah ada?

Untuk itu, kita tidak perlu melirik jauh ke belakang, karena jawaban dari pertanyaan itu ada pada film animasi yang dirilis dua tahun silam yang berjudul Foodfight!   

Awalnya digarap untuk tontonan keluarga di momen Natal 2003, Foodfight! yang kisahnya diangkat dari konsep yang dikembangkan Lawrence Kasanoff dan Joshua Wexler pada tahun 1999 ini

dibekali amunisi yang terbilang lumayan dengan keberadaan beberapa nama besar di jajaran pengisi suaranya, belum lagi sokongan dana produksi awal sebesar $50 juta. Plot cerita filmnya sendiri mengadopsi formula Toy Story namun dengan setting supermarket.  Film ini berkisah mengenai aktivitas di sebuah pusat perbelanjaan serba ada setelah jam tutup toko yang berubah menjadi kota, karena para penghuninya yang terdiri dari maskot-maskot produk komersil (seperti Mr.Clean, Cheester Cheetah, Mrs.Buttersworth, Charlie the Tuna) hidup dan bergerak tak ubahnya manusia dan perseteruan mereka dengan kekuatan jahat “Brand X”.

Hancur lebur sejak proses pengembangannya, Foodfight! Harus menapaki jalan terjal dalam masa produksinya akibat berbagai kendala, mulai dari perbedaan kreativitas, kesulitan menggalang dana pinjaman,penundaan tahap produksi yang berulang-ulang hingga beberapa kali pindah tangan investor  

yang membuat film garapan Kasanoff ini tidak mampu memenuhi target jadwal rilisnya. Apalagi setelah pihak produser tidak mampu mengembalikan dana pinjaman proses produksinya, seluruh aset dan hak cipta kepemilikan film ini dilelang oleh pihak asuransi pada tahun 2011, sebelum akhirnya film ini beredar juga ke publik satu tahun berikutnya,walaupun dalam kadar rilis rendah dan kebanyakan di beberapa wilayah diedarkan secara direct-to-DVD.

Sama sekali tidak menarik, membosankan, seperti digarap asal-asalan, mutu dubbing yang sangat buruk, jauh dari kata lucu, serta kualitas CGI yang sangat mengecewakan membuat pengalaman menyaksikan Foodfight! ibarat memberi siksaan simultan, baik pada mata maupun otak penontonnya. Hal tersebut diperparah dengan pilihan konflik yang diketengahkan, yakni produk-produk bertema Nazi yang mencoba mengakuisisi sebuah supermarket, lengkap dengan karakter bak Hitler wanita berpakaian ibarat paduan penggemar Nazi dan seorang stripper yang disuarakan oleh Longoria membuat film ini muatannya terlalu ofensif untuk disaksikan oleh anak umur lima tahun sekalipun. Mudah diduga, film ini tidak hanya dicaci maki oleh kalangan kritikus maupun para penikmat film, namun juga hanya mampu menghasilkan raihan sebesar $73.706 dari bujet produksi akhirnya yang konon melambung hingga $65 juta.