Review Film Deadpool - Superhero atau Anti Superhero

Review Film Deadpool – Superhero atau Anti Superhero?

188

Review Film Deadpool - Superhero atau Anti Superhero

Ini adalah artikel review dari komunitas Cinemags untuk lomba review film Deadpool dan sama sekali tidak mencerminkan pandangan editorial Cinemags. Anda juga bisa ikut serta dalam lomba review film Deadpool di sini.

linebreak

Note: spoiler alert!

Bila kita berbicara tentang Marvel maka yang terlintas di benak kita adalah superhero. Superhero adalah sesosok manusia atau mahkluk dari alam lain yang mempunyai kekuatan untuk membela kebenaran dan menegakan keadilan di muka bumi. Tidak semua terlahir sebagai superhero, karena beberapa dari superhero hanyalah manusia biasa seperti Iron Man tetapi karena Tony Stark sangatlah cerdas dalam urusan teknologi maka lahirlah superhero Iron Man, dan ada juga yang terlahir kembali menjadi superhero setelah menjalani rekayasa laboratorium seperti Captain America yang menjadi sukarelawan ayah dari Tony Stark untuk menjadi kelinci percobaan ilmiah dan lahirlah Captain America. Setiap superhero selalu berwibawa dan mempunyai aura yang dapat mempengaruhi para pecintanya, entah itu dari segi tingkah lakunya, tutur katanya yang inspiratif atau kepemimpinannya. Saat kita berbicara tentang Deadpool, kita tidak bisa menyamakannya dengan superhero marvel lainnya yang mempunyai sisi-sisi kemanusiaan yang bisa ditiru. Kenapa tidak bisa disamakan dengan superhero yang lain ? maka dari itu saya disini membuat review film Deadpool yang baru saja saya tonton dibioskop dekat rumah saya.

Berawal dari seorang pria yang bernama Wade sebelum berubah menjadi Deadpool yang diperankan oleh Rey Reynolds adalah seorang yang bisa dikatakan preman yang sering membuat onar. Wade menerima bayaran dari orang yang menyuruhnya untuk menyingkirkan bocah-bocah berandalan yang sering mengikuti beberapa gadis atau menyelesaikan masalah-masalah sederhana lainnya. Wade pun bertemu dengan kekasihnya Vannesa (Monica Baccarin) di Pub sahabatnya Weasel (T.J Miller), singkat cerita mereka hidup bahagia dan Wade pun melamar Vannesa tetapi tak disangka Wade mengidap kanker di hatinya. Hal tersebut membuat Wade sempat terpuruk karena hidupnya bisa dibilang tidak panjang lagi. Saat dirinya bermain ke pub Weasel ada seorang recuiter (Jed Rees) dan menjanjikan dirinya bisa sembuh dari kankernya dan merubahnya menjadi seseorang yang lebih baik. Sempat tidak menghiraukan apa yang dia katakan, akhirnya Wade pun berpikir untuk mengikuti saran recruiter tersebut dan mendatanginnya. Tak disangka Wade pun terjebak disebuah lab percobaan tempat dimana merubah orang-orang yang tidak mempunyai harapan menjadi mutant. Ajax atau yang bernama asli Francis (Ed Skrein) adalah mimpi buruk bagi Wade dan akhirnya merubahnya menjadi seorang yang buruk rupa dan immortal. Wade yang kehilangan ketampanannya memburu Ajax. Wade pun mengawali perburuannya dan merubah namanya menjadi Deadpool. Klise ? memang, apalagi sih yang diinginkan dari film superhero.Yang membedakan Deadpool dari superhero lainnya adalah Deadpool tidak berwibawa dan sangat mudah berkata kasar terlebih karena dia mempunyai latar belakang seorang preman. Bila kalian mengira Tony Stark dengan Iron Mannya sudah sangat nyeleneh dan kelewatan, Deadpool lebih nyeleneh dari Iron Man, karena senyeleneh-nyelenehnya Iron Man dia masih menjaga tata bahasa saat bertempur atau menyelamatkan para korban, jangan harapkan itu ada pada Deadpool. Sejatinya Deadpool adalah seorang mutant tetapi dia enggan bergabung dengan X-Man dan menganggap bila X-Man hanyalah segerombolan Boy Band. Collosus sebagai perwakilan dari X-Man sangat berambisi merekrutnya menjadi anggota X-Man tetapi Deadpool menolaknya.

Baca Juga:  Berubahnya Kehidupan Seorang Antisosial dalam Film Shaking Tokyo

Film Deadpool ini memang sebuah sajian untuk dewasa. Lagi-lagi saya membandingkan bila Deadpool ini berbeda dengan tokoh-tokoh superhero lainnya karena banyak bagian-bagian sadis dan vulgar. Dari tata bahasa pun film Deadpool sangat tidak cocok untuk dinikmati bersama dengan keluarga terutama anak-anak, karena tidak ada moral value yang bisa diambil dari film ini. Banyak kata-kata kasar dan  scene-scene vulgar yang terkena sensor tapi untungnya tidak sampai diblur atau dirubah warnanya menjadi hitam putih seperti dibeberapa tayangan televisi nasional. Lelucon yang berbau sarkas menjadi hidangan utama selain aksi dari Deadpool sendiri. Memang ada beberapa scene yang dipotong oleh lembaga sensor tetapi itu tidak menghilangkan esensi dari film Deadpool itu sendiri.. Deadpool : superhero atau anti superhero, bisa kalian simpulkan setelah menoton filmnya. Menurut saya Deadpool adalah anti superhero. Jadi tunggu apalagi, cepat ke bioskop terdekat. Film ini sangat pas untuk dinikmati diakhir pekan dengan teman-teman atau kekasih, karena dari awal kita akan dibawa ke zona dimana superhero tidak harus formal dan jaim untuk mengekspresikan perasaan yang sedang dirasakan dan berkata-kata sesuka hati.