Review Film Batman v Superman: Penceritaan yang Terlalu Dangkal

25

Batman v Superman merupakan salah satu film yang digadang-gadang akan menjadi film terbaik di tahun 2016. Dengan materi trailer yang luar biasa, semakin membuat para pecinta film semakin tidak sabar menunggu film ini rilis. Akhirnya pada Rabu (23/3) kemarin, film ini resmi rilis di Indonesia. Batman v Superman mempunyai banyak keunggulan dari sisi premis yang menarik dan jejeran pemainnya yang tidak sembarangan. Namun tetap, menurut saya film ini masih mempunyai banyak kekurangan. Proses penceritaan yang terlalu dangkal dan terkesan setengah-setengah, membuat film ini tidak sesuai ekspektasi saya.

Film ini diawali dengan penggambaran masa lalu Batman. Agak berbeda dengan The Dark Knight Trilogy, menurut saya penggambaran emosi Bruce Wayne disini sedikit lebih baik. Ben Affleck yang sempat diragukan untuk tampil sebagai Batman berhasil membuktikan bahwa dirinya mampu. Ben tampil begitu rapi. Selain Ben Affleck yang tampil luar biasa, Gal Gadot berhasil menjawab keraguan para penggemar bahwa ia tidak bisa memerankan sosok Wonder Woman. Gal Gadot begitu brilian. Luar biasa. Gal Gadot tampil sempurna, tanpa cela sama sekali, dan tidak berlebihan. Apalagi saat adegan klimaksnya, dimana Wonder Woman muncul, kesan yang ia ciptakan membuat saya berdecak kagum.

Penceritaan yang Terlalu Dangkal

Pada dasarnya film ini memang menyajikan pertarungan maha dahsyat antara Batman dan Superman. Ditambah dengan beberapa tokoh lain yang mempunyai peran besar disini, penceritaan mendalam tentang tokoh-tokoh tersebut terasa kurang mendalam. Dengan durasi 151 menit, saya merasa Snyder kurang berhasil dalam memaparkan latar belakang mengapa Batman dan Superman saling membenci, siapa Wonder Woman sebenarnya, atau siapa Lex Luthor sebenarnya. Saya mafhum jika Superman tidak digambarkan secara rinci disini karena cerita khusus tentang dirinya telah ada di Man of Steel. Namun Batman, Wonder Woman, Lex Luthor? Mereka kurang mendapat porsi yang cukup untuk menceritakan siapa diri mereka sebenarnya. 

Alur cerita yang ditampilkan juga terasa bolong. Saat sedang berada di satu scene tertentu, menceritakan sebuah peristiwa, penonton akan langsung diajak pindah ke peristiwa lainnya secara tiba-tiba, padahal scene yang sebelumnya saja belum selesai atau belum jelas apa yang sedang terjadi. Perpindahan antar scene pun terasa membingungkan. Saya merasa bahwa scene yang ditampilkan tidak berurutan, terlalu acak-acakan. Bahkan beberapa kali saya bertanya pada diri sendiri, apa yang sedang terjadi. Dibutuhkan beberapa saat sampai akhirnya saya mengerti apa yang sedang terjadi. 

Kebanyakan kekecewaan saya adalah dari materi trailer BvS yang menurut saya luar biasa. Namun dari keluarbiasaannya itulah saya menggantungkan harapan sangat tinggi terhadap film ini. Adegan-adegan yang ada dalam trailer membuat ekspektasi penonton menjadi begitu tinggi. Terlalu banyak adegan luar biasa yang dimasukkan dalam trailer. Menurut saya disinilah mengapa banyak yang menganggap BvS agak mengecewakan. 

Lex Luthor

Salah satu villain terbaik yang pernah saya tahu. Namun entah mengapa dalam BvS peran Lex Luthor yang dimainkan oleh Jesse Eisenberg, terasa aneh dan tidak merepresentasikan diri Luthor. Bahkan saya merasa sedang berhadapan dengan Joker! I saw a lot of Joker in him! Like literally. Caranya berbicara, caranya menyusun rencana, dan juga perangainya terasa begitu Joker. Saya tidak merasakan sosok Lex Luthor di sini. Sayang sekali jika debut Eisenberg menjadi Luthor malah membuat kesan yang kurang baik terhadap tokoh itu sendiri.

Tetap Menarik

Walaupun begitu, saya merasa BvS tetap layak untuk ditonton. Snyder tidak gagal mengeksekusi film ini. Sepanjang film penonton akan disuguhi aksi yang brutal dan luar biasa. Pertarungan demi pertarungan, kecil dan besar, akan menghiasi 151 menit film ini berjalan. Dari segi visual, Snyder sukses memaksimalkan komposisi gambar yang ditampilkan. Pergerakan kamera yang tepat, pemberian tone warna yang terkesan dark dan intens, khas film DC. Tak hanya luar biasa di visual, terimakasih kepada Hans Zimmer dengan komposisi musiknya. Komposisi musiknya dapat membangun emosi penonton dengan tepat, pas, tidak terlalu berlebihan. Emosi penonton serasa ikut naik turun. Apalagi saat di adegan pertempuran besar, dan juga kemunculan Wonder Woman, jujur saya hampir melompat dari kursi saya. Sungguh luar biasa, musik yang dihadirkan tidak mainstream, tidak membosankan, dan disajikan pada momen yang tepat, itulah kuncinya. Musik BvS juga sukses membangun ketegangan penonton dengan intens agar tetap merasakan atmosfer dari pertarungan tersebut. Selain itu pada adegan penutup, sedikit spoiler, akan ada suasana kesedihan yang lagi-lagi sukses didukung oleh komposisi musik yang brilian. Perasaan tidak percaya, perlahan-lahan dibangun kemudian diruntuhkan dengan komposisi musik. BvS benar-benar terbantu dengan komposisi musik yang luar biasa ini.

BvS bisa dibilang adalah gerbang pembuka untuk munculnya DCEU di masa depan. BvS ini membuka sebuah timeline seperti apa yang ada di MCU. Jadi jika jalan cerita yang disajikan masih dangkal, maklum saja karena ini hanyalah gerbang pembuka dari sebuah universe yang lebih luas lagi. Namun berbeda dengan MCU yang lebih dulu menyajikan film-film solo para punggawa Avengers, DC memilih untuk menceritakan pertarungan dua superhero sebelum membuat film solo dari salah satunya. Jadi jangan kecewa jika anda tidak menemukan kisah Batman sebelum BvS, atau siapakah Wonder Woman, karena film-film solo mereka baru akan tayang beberapa tahun mendatang. 

Untuk penonton, memang sebaiknya menonton Man of Steel terlebih dahulu. Karena jika tidak, maka anda akan terus bertanya-tanya mengapa Batman dan Superman bisa bertengkar dan apa yang terjadi di awal film karena itu merupakan adegan yang seharusnya ada di Man of Steel.