Review Film Batman v Superman: Dawn of Justice – Mimpi Basah Para Fanboys yang Sedikit “Dirusak”

29

Kehebohan salah satu announcement di gelaran San Diego Comic-Con tahun 2013 cukup mengguncang dunia kala itu. Potongan quotes dari novel grafis legendaris The Dark Knight Returns yang dibacakan oleh Harry Lennix menandakan bahwa dua karakter komik paling populer, Batman dan Superman, akan segera bertemu di layar lebar. Mimpi para fans untuk melihat dua ikon raksasa budaya pop berada dalam satu cinematic universe akhirnya dapat segera terwujud melalui film yang bertajuk Batman v Superman: Dawn of Justice (BvS). Selain menjadi ajang bertemunya dua titular characters tersebut, BvS juga menjadi awal kemunculan Wonder Woman serta menjadi pondasi terbentuknya tim superhero yang bernama Justice League.

 

Kehancuran kota Metropolis pasca event Man of Steel membuat Batman (Ben Affleck) menyadari adanya potensi bahaya yang dimiliki oleh Superman (Henry Cavill). Berawal dari kekhawatiran akan segala kekuatan dahsyat yang dimiliki oleh Superman, Batman pun mulai menyelidiki berbagai titik kelemahan sang manusia baja tersebut. Sedangkan Superman sendiri tengah dilanda dilema mendalam dari aksi heroiknya yang justru menuai kecaman dari berbagai pihak yang diakibatkan jatuhnya banyak korban jiwa. Selain mencoba melakukan penebusan dengan melakukan berbagai tindakan penyelamatan di berbagai belahan dunia, Superman juga melihat Batman sebagai seorang kriminal yang wajib dibasmi. Keduanya pun mencoba mencari akal untuk saling menghentikan. Namun, di balik semua itu, seorang milyuner Lex Luthor (Jesse Eisenberg) diam-diam menyimpan rencana jahat yang mematikan.

 

Tuntutan untuk menyajikan gladiator match yang epik, reinkarnasi Batman terbaru, first appearance Wonder Woman, serta awal terbentuknya Justice League menjadi PR berat yang harus dikerjakan oleh Zack Snyder dan timnya. Naskah yang ditulis oleh Chris Terrio dan David S. Goyer pun berusaha menampilkan plot orisinil serta penambahan berbagai elemen cerita dari komik yang diharapkan dapat berjalan secara dinamis. Namun, eksekusi yang terjadi justru mebuatnya menjadi sesak, saling locat, dan minim kegelayutan yang tidak terangkai menjadi satu kesatuan sempurna. Selain itu, alih-alih menyajikan spekulasi bagi penggemar, elemen pemantik timbulnya fans theory—seperti Knightmare sequence (adegan Batman di gurun pasir)—justru berpotensi menimbulkan kebingungan bagi penonton yang tidak memiliki bekal pemahaman tentang DC Universe.

 

Meski memiliki kelemahan pada naskah, aspek lain yang terdapat dalam film ini ternyata cukup mampu untuk menutupinya. Sebut saja bermacam action serta visual effect yang tersaji memukau yang mampu membuat kita bersenang-senang pada paruh akhir film. Duel Batman vs. Superman, aksi brutal Batman dalam menghajar anak buah Lex, serta bergabungnya The Trinity (Superman, Wonder Woman, dan Batman) dalam menghadapi Doomsday menjadi ganjaran manis bagi kesabaran penonton selama satu setengah jam sebelumnya. Selain itu, pemilihan dark tone serta ending yang cliffhanger pun termasuk keputusan berani mengingat kisah-kisah film superhero generik lainnya yang masih bermain aman dengan mengakhirinya secara happy ending.

 

Kualitas akting dari tiap pemeran pun telah dilakukan dengan sangat baik. Affleck sebagai Batman telah melakukan tugasnya sebagai pemeran sang ksatria kegelapan yang kini tampil lebih brutal dan horror dari para pendahulunya. Cavill pun telah bermain apik sebagai Superman era modern yang tidak hanya murni sebagai seorang savior tapi juga seorang pribadi yang perasaan hatinya dapat diliputi kebimbangan, amarah, dan kesedihan. Eisenberg sebagai Lex Luthor juga tampil maksimal dan sukses membuat penonton geregetan lewat aksinya yang licik dan mengadudomba. Cast lain juga bermain sangat baik seperti Gal Gadot sebagai Wonder Woman yang tampil begitu tangguh, Jeremy Irons yang tampil sebagai Alfred yang nyentrik, serta Amy Adams yang melakukan perannya sebagai Lois Lane jurnalis pemberani yang meski saja masih susah dipisahkan dari ikon damsel and distress. Semuanya memainkan perannya secara maksimal, hanya faktor arahan naskah saja yang membuat mereka begitu terombang-ambing pada jalinan cerita yang tidak tertata rapi.

 

Hal yang menarik dari BvS ini selain bertemunya dua karakter Batman dan Superman, juga kemunculan Wonder Woman yang begitu mencuri perhatian. Kemunculan pertama sang putri Amazon ini langsung mendapat gemuruh tepuk tangan satu studio di tempat saya menonton. Bagaimana tidak, di tengah gencarnya judul-judul film superhero yang didominasi oleh karakter utama laki-laki, tampilnya Wonder Woman menjadi bukti bangkitnya generasi superheroine yang ikut memiliki peran besar dan setara di dalam tim. Kemunculan Wonder Woman ini seolah memberi angin segar setelah tahun lalu banyak pihak yang dikecewakan oleh pendomestikan peran Black Widow di film Avengers: Age of Ultron.

 

Meski lemah di paruh pertama, BvS nyatanya mampu ditutup dengan cukup baik. Buruknya penulisan naskah dari Terrio dan Goyer tampak seperti menyia-nyiakan kemampuan aktor dan aktris yang ada. Meski mendapat mixed reviews dari para kritikus, munculnya berbagai macam hint yang terdapat dalam BvS berpotensi membuka lebar diskusi teori yang seru sembari menunggu perilisan film-film DC berikutnya.

 

Nilai: 3/5