Ngobrol bareng Yayan Ruhian: Ketika Mad Dog Jadi Otakku

418

Satu lagi aktor laga Indonesia yang diakui kemampuannya di dunia internasional. Setelah lawan mainnya dalam The Raid, Joe Taslim dan Iko Uwais, kini giliran Yayan Ruhian atau Mad Dog, yang kembali berlaga di kancah Internasional lewat film besutan Takashi Miike.  Di sela-sela kesibukannya melakukan promosi film Yakuza Apocalypse , aktor  asal Tasikmalaya yang berperan sebagai Kyoken, seorang otakku ini menyempatkan waktunya untuk berbincang-bincang dengan Cinemags. Berikut hasil wawancaranya:

(C):Bisa dijelaskan seperti apa karakter Anda dalam film ini?

Yayan Ruhian (YR) : Karakter aku di sini sebagai Kyoken, Kyoken dibentuk oleh dua karakter dan dua sisi yang berbeda satunya otakku, satunya Yakuza itu sendiri. Otakku itu di sini sosok yang punya tampang culun, tidak peduli dengan diri sendiri dan orang lain, tapi di situ ternyata ada hal yang tersembunyi di balik keluguan, kepolosan, yaitu kejujuran. Sehingga saat muncul menjadi Kyoken di situlah kekuatan muncul dan ada dikatakan kalau kamu pengen jadi sakti dan kuat jadilah kamu seorang otakku. Hahaha

(C): Bila dalam film sebelumnya selalu digambarkan dengan sosok yang seram,  namun kali ini Anda berperan sebagai Otakku, kenapa?

(YR): Nah kalau di Mad Dog sendiri, kalo dibilang sangar ya sangar tapi yang sangar kan Mad Dog. Kalau Yayan enggaklah, tapi berperan sebagai apapun saya tetap berusaha.  Kalau ngerubah jadi culun, ya mungkin saya kan bawaannya udah culun. Hahaha. Tapi alhamdulillah ya .Saya mencoba karakter yang seperti itu dan mudah-mudahan bisa berhasil memerankan otakku dan Kyoken itu sendiri.

(C): Butuh waktu berapa lama untuk mendalami karakter?
(YR): Di film ini hanya punya waktu tiga minggu itu untuk terlibat di dalam proses pembuatan film Yakuza sendiri. Jadi hari pertama saya datang , saya ketemu dengan semua cast dan director, saya fitting hari kedua saya ketemu dengan koreografer untuk memperlihatkan teknik bela diri saya dan bela diri apa yang akan saya tampilkan. Dan malamnya, saya hanya ngobrol-ngobrol saja  untuk membahas skripnya, sebelum besoknya saya syuting dan berangkat ke Jepang.
 
(C): Lalu, bagaimana dengan penyesuaian dan chemistry dengan para pemain yang lain?

(YR): Alhamdulillah saya ketemu beberapa kali sama pemain di tempat latihan koreo karena buat saya mengenal secara pribadi pemain di set itu kan tidak kalah penting sama menghafal skrip diri sendiri. Jadi untungnya tidak terlalu susah penyesuaiannya dan kalau emang udah kenal dengan lawan main ya enggak bakal jadi masalah besar juga dan gak bakal kenapa-kenapa. 

(C): Selain ada unsur actionnya, film ini juga ada komedi, lantas apakah Kang Yayan turut berakting komedi?
(YR): Di sini saya tidak jadi komedian. Komedinya mungkin di sini kurang akrab tapi pas saya di Cannes itu yang nonton ketawa terus dari awal film.

(C): Pertanyaan terakhir, bagaimana rasanya bekerjasama dengan Takeshi Miike dan para crew lainnya?
(YR): Menyenangkan. Semuanya berkesan, tapi hal yang paling menarik adalah semangat dan kedisiplinan dan saya rasa kedisiplinan orang Jepang itu betul-betul bukan kedisiplinan orang kerja, tapi kedisiplinan warga Jepang dari segi waktu dan semuanya serba disiplin. Kalo dibandingin luar sama di Indonesia sebenarnya sedikit sekali perbedaannya semuanya hampir sama, kecuali masalah disiplin aja. Di Jepang disiplin, di sini tidak, udah itu aja.