Paul Grigson

Membahas Film Bersama Dubes Australia Paul Grigson

315

Paul Grigson

Walaupun letak geografisnya sangat dekat dengan tanah air kita dan juga begitu banyak insan perfilmannya yang mampu mengibarkan namanya kencang-kencang di Hollywood, namun tidak bisa dipungkiri masih banyak yang masih buta bagaimana peta industri perfilman di benua kangguru sendiri maupun perkembangannya. Oleh karena itu saat pihak Kedutaan Australia memberi tawaran menginterview Mr. Paul Grigson, Duta Besar Australia untuk Indonesia, undangan itu tidak ubahnya bak pucuk dicinta ulam tiba. Dalam momen istimewa itu, pada tanggal 2 Juni lalu, Cinemags melakukan tanya jawab secara langsung dengan beliau di Kedutaan Australia, di kawasan Kuningan, Jakarta. Pada kesempatan itu, bapak Duta Besar yang ternyata sangat ramah, ekspresif,  serta punya pengetahuan luas tentang film ini berbicara banyak mengenai perihal industri perfilman di negaranya, serta program-program pemerintah Australia khususnya di bidang perfilman yang sedang, telah dan akan dilakukan untuk mengenalkan perihal film Australia di tanah air.

Cinemags (C ): Hello,  Mr.Grigson. Terimakasih sudah mau mengundang saya untuk melakukan sesi bincang bincang ini. Terus terang saya datang dengan keadaan masih belum memiliki banyak  informasi mengenai perihal industri perfilman Australia sendiri.  

Paul Grigson (PG): Tidak apa-apa. Pertama-tama, terimakasih atas kedatangan Anda. It’s very good of you. Thank you for that. Saya pikir jika berbicara mengenai perfilman Australia dan Indonesia, sebenarnya terdapat banyak keterikatan, hubungan, dan kesamaan antara keduanya, yang mungkin tidak banyak orang tahu. Orang Australia tidak tahu tentang film-film Indonesia, begitupula sebaliknya. I think the first thing to say about that…jika Anda berpikir mengenai sosok insan perfilman Indonesia terkemuka contoh yang selalu kami gunakan adalah Joko Anwar. Karena, film suksesnya yang pertama diputar di Sidney Film Festival. Jadi, dia sudah dikenal kalangan film Australia. Dan, film-film Indonesia sendiri yang diputar di festival itu umumnya mendapat sambutan hangat dan digemari penonton di sana. Jadi, bisa dikatakan minat terhadap film Indonesia di Australia sangat positif. Yang kedua, adalah beberapa alumnus pelajar Indonesia di Australia yang saat pulang ke Indonesia terlibat di industri perfilman dan televisi tanah air, baik itu sebagai insan di balik layar ataupun di depan layar. Yang ketiga, adalah kesempatan dan kemungkinan kerjasama antara Australia dan Indonesia memproduksi sebuah karya bersama, contohnya seperti yang sudah berhasil salah satunya adalah Battle of Surabaya, yang proses produksinya diselesaikan di Australia. Di samping itu, banyak produksi film Hollywood yang dikerjakan di Australia. We have a strong production. Seperti The Matrix, Mission: Impossible, Pirates of Carribean, semuanya disyuting di Australia, belum lagi dengan banyaknya insan perfilman kami yang hijrah dan sukses kariernya di Hollywood seperti Nicole Kidman, Sam Neill. Kami juga memiliki deretan kru teknis film yang reputasinya bertaraf internasional. Antara Hollywood dan Australia sendiri memiliki ikatan kuat, jadi kami rasa tidak ada alasan hal yang sama bisa tercipta juga antara Australia dan Indonesia. Insan perfilman Indonesia sendiri sudah terbukti sangat kreatif, Australia memiliki strong production, capacity, and values, yang bila keduanya digabungkan akan menghasilkan karya yang kuat. Jadi, lewat Kedutaan ini kami berusaha menyemangati semakin banyaknya ajang kerjasama yang bisa terjadi melalui berbagai program yang kami adakan.

 

(C): Seperti halnya festival film pendek yang diselenggarakan beberapa waktu lalu?

(PG): Ya, seperti itu. Karena festival semacam itu bisa menjaring banyak bakat baru di Indonesia. Kami juga berencana mengadakan kompetisi festival film pendek bekerjasama dengan youtube. Kami juga sempat mengadakan festival Australia – Indonesia Film Festival pada Januari lalu yang mana tidak hanya memutar film Australia saja namun juga film-film Indonesia. Kami berusaha menunjukkan bahwa keduanya bisa saling berhubungan. Di kedutaan ini juga kami memiliki teater yang secara berkala memutar film- film Australia. Jadi mengenai peluang kerjasama di bidang film antara Australia dan Indonesia sangatlah besar dan dijamin akan  menghasilkan perihal yang sangat menarik. Kami juga membuka kesempatan untuk mengadakan berbagai program tidak hanya di Jakarta, namun juga di kota-kota besar lainnya, seperti Bandung yang saya dengar memiliki banyak komunitas perfilman dan orang-orang kreatif yang punya minat tinggi terhadap film-film.

 

(C): Ya, di Bandung banyak komunitas perfilman, juga kerap ada pemutaran berkala setiap minggunya di mana diputar sebuah film dan kemudian para anggota komunitas melakukan sesi diskusi perihal yang berkenaan dengan tema ataupun materi yang tadi diputar. Di Bandung juga ada tempat bernama Taman Film.

(PG): Wow, sangat menarik. Mengingatkan saya pada sebuah film yang dibintangi Robert DeNiro dan Michelle Pfeiffer…film ini merupakan remake dari film arahan Luc Besson…..   Malavita. Di situ , ada scene menarik di dalamnya di mana karakter utama yang dimainkan DeNiro diperlihatkan mendatangi sebuah acara pemutaran film….. Jadi, berapa sering sesi pemutaran film di Bandung?

 

(C): Terhitung sering, sedikitnya dua kali setiap minggunya. Umumnya, yang ditonton adalah tipe film-film internasional yang membuat penontonnya berpikir maupun film-film lama.

(PG): That’s very interesting, karena kami juga di sini kerap memutar film-film lama Australia. Biasanya yang diproduksi pada era 1970an, di mana pada masa itu di Australia terjadi pergerakan di kancah perfilman yang disebut dengan Australian New Wave. Dan, antara 1972-1986 di Australia setidaknya diproduksi sekitar 100 film, dan banyak di antaranya menjadi film-film yang populer. Salah satunya adalah Mad Max. Lebih jauh lagi, banyak film masa tersebut yang sebenarnya dibuat dengan bujet kecil bahkan pada masa itu. Hal itulah yang ingin ditonjolkan kepada pelajar-pelajar Indonesia yang punya minat besar terhadap film, bahwa dengan biaya yang kecil tetap mampu menghasilkan karya yang berkualitas. Pada masa itu film-film Australia yang dibuat juga sangat beragam genrenya, horor, thriller, aksi, hingga film-film eksotis. Wake in Fright, Dead Calm, Mad Max, Storm Boy, Sunday Too Far Away, dan The Cars That Ate Paris yang diakui banyak penyuka film Australia sebagai film terbaik adalah beberapa judul-judul film paling terkemuka pada masa itu hingga sekarang. Bahkan, lebih jauh lagi tahukah Anda bahwa film panjang pertama di dunia dibuat di Australia? Tepatnya tahun 1906, begitu pula dengan film berwarna pertama juga dibuat di Australia. Jadi, sebenarnya insan perfilman Australia sudah memiliki pengalaman sangat luas dalam hal pembuatan film. Oleh karena itu saya pikir insan film Australia dan Indonesia bisa membuat hasil kolaborasi yang lebih dalam lagi.

 

(C): Jujur saja informasi ini baru saya ketahui karena besarnya industri Hollywood yang membuat banyak orang mungkin mengira bahwa Hollywood lah yang memulai segalanya. Hal ini dikarenakan sulit didapatnya sumber informasi mengenai perihal film-film Australia, rilisan terbarunya, contohnya.

(PG): Yeah, yeah, everybody knows Hollywood, Bollywood, Mandarin, Korea, tapi tidak dengan industri film Australia.  About that, we can do Australian film for you.     

 

*Sesi perbincangan ini juga sempat disela saat Mr.Grigson membaca majalah Cinemags yang dibawa dan kemudian berbincang mengenai rubrikasi dan artikel-artikel yang ada di majalah itu.* 

13833030_10210441791226106_102803743_o

 

(C): Anda memiliki pengetahuan film yang sangat luas. Jika boleh bertanya apakah hal itu juga menurun pada keluarga serta kalau boleh tahu apa saja film favorit Anda?    

(PG):  Saya menyukai film sejak kecil demikian pula seluruh anggota keluarga, kami semua adalah movie buffs (tertawa). Putri saya yang berusia 10 tahun bahkan sudah memiliki selera film yang sangat bagus. Meski dengan satu pengecualian, with some reason that I and my wife don’t understand, she loves Alvin and the Chipmunks. Padahal, dia tidak suka film-film anak-anak pada umunya dan lebih menggemari film-film dewasa yang berkualitas.

 

(C): Berapa banyak film yang sudah pernah Anda tonton sampai sekarang? 1000, 5000, atau lebih? Dan, apa saja film-film favorit Anda?

(PG): Film-film yang sangat saya sukai dan telah saya tonton selama berkali-kali adalah karya-karya penyutradaraan mupun diproduseri oleh Coen brothers seperti Fargo, yang menjadi salah satu film internasional favorit saya. Saya juga menyukai trilogi Godfather, kemudian Alien, Drive yang awalnya saya kira tidak akan menyukainya. The Dressmaker; yang sebenarnya bukan tipe film yang saya sukai, lalu Blue Jasmine.

 

(C): Sedangkan film Australia apa yang menghuni daftar film favorit Anda?

(PG): Dead Calm yang dibintangi oleh Nicole Kidman, kemudian Sunday Too Far Away. And so many film from Australian New Wave, too. Bintang film favorit saya, Sigourney Weaver dan Kate Blanchett. Film Australia beberapa tahun belakangan ini yang saya sukai adalah Wolf Creek. Sedangkan, Anda sendiri, film rilisan tahun lalu apa yang menjadi favorit Anda?

 

(C): Film –film rilisan tahun lalu yang menjadi favorit saya, Spotlight, Ex-Machina, Mad Max: Fury Road, Star Wars: The Force Awakens, dan Inside Out.  Lalu, apa  film favorit sepanjang masa Anda?

(PG): Saya belum bisa memutuskannya… kalau Anda?

 

(C): Karena saya selalu memberi apresiasi lebih pada film-film yang paling memberikan saya kejutan paling besar, film-film favorit saya adalah (500) Days of Summer, A Palace Beyond the Pines, and Triangle.

(PG): What’s your favourite film of all time? What’s your favourite film of all time? (tertawa)  I have to think a little bit.

 

(C): Sebagai pertanyaan terakhir, apakah Anda juga pernah menonton film-film Indonesia?  Jika ya, film apa yang menjadi favorit Anda?

(PG): I watched a little bit, so  my Indonesian language is improving. People think me strange when I said it but the Indonesian film I seen and liked the most is a short film titled Lemari. The film was so good and so Indonesian, namun ceritanya bisa diaplikasikan ke negara apapun. And now i’m gonna ask my wife about what’s my favourite film of all time is (menelepon)…. Ok, my favourite films of all time is Sunday Too Far Away, The Godfather, and the other things I liked is Steve McQueen’s films from 1960, The Get Away, Thomas Crown Affair, The French Connection, but the most favourite is definitely The Godfather.    

* Terimakasih banyak kepada Mr. Paul Grigson, Alison Purnell, Wilda Anggraeni dan Kedutaan Australia atas kesempatan istimewa yang telah diberikan*