windowsactive.net cheap Windows 10 PRO key Buy Office Professional Plus 2016 Key canadagoosecoats.at Canada Goose Online http://www.canadagoosestore.be/ http://www.troilus.es

In The Heart Of The Sea

Overview
Specifications

Action, Adventure, Biography

Length

121 min

Box

Budget:

$100,000,000 (estimated)
Movie

Director:

Ron Howard

Writers:

Charles Leavitt (screenplay), Charles Leavitt (story)
Storyline
Pada bulan Agustus 1819 sebuah tim yang terdiri dari 21 orang menggunakan kapal penangkap ikan paus berlayar untuk belajar hal baru di luar sana. Namun kapal tersebut diserang oleh sesuatu yang tidak dapat dipercaya oleh siapapun, Paus ukuran raksasa menyerang dan menyebabkan kecelakaan maritim paling mengerikan dalam kehidupan nyata   Film ini menceritakan betapa mengerikan penyerangan itu dan bagaimana Capt. Owen Chase (Chris Hemsworth) memimpin timnya untuk keluar dari situasi tersebut.
Rating
Our Rating
User Rating
Rate Here
Plot
7.5
8.1
Acting
8.0
6.5
Directing
8.0
8.2
Soundtrack
7.0
7.1
Editing
7.5
8.6
7.6
Total Score
7.7
User Score
3 ratings
You have rated this
Review Film In the Heart of the Sea, Epos Underrated yang Menghujam Jantung walau Tidak Mematikan
Review Film In the Heart of the Sea

Abad industri sebelum dimulainya penambangan minyak bumi yang masif adalah masa yang penuh kegairahan sekaligus spekulasi. Misteri tentang sudut-sudut Bumi yang belum terjelajahi menimbulkan rasa penasaran, yang jika dicampur dengan bumbu keserakahan akan membangkitkan gelora kejantanan para penjelajah yang mencari sekarung uang dan drum-drum berisi minyak paus. Sekadar diketahui, minyak "ikan" paus adalah salah satu bahan bakar paling utama sebelum ditemukannya minyak bumi dan listrik yang ekonomis. Masa inilah yang menjadi setting film terbaru sutradara Ron Howard, In the Heart of the Sea. Film yang mengambil latar belakang kisah nyata industri minyak paus pada paruh awal Abad-19 di Pulau Nantucket, USA ini dibintangi oleh aktor-aktor papan atas seperti Chris Hemsworth, Cillian Murphy, Ben Whishaw, Benjamin Walker, Tom Holland, dan Brendan Gleeson.

Cerita dimulai dari narasi seorang Thomas Nickerson (Gleeson), purna-pelaut alkoholik yang memendam rahasia kelam masa lalunya yang terkait dengan perburuan paus. Di hadapannya ada sepasang telinga seorang penulis dan novelis muda, Herman Melville (Whishaw) yang sedang melakukan riset sebagai bahan penulisan opusnya, "Moby Dick". Kisah pun mundur ke tahun 1820, ketika Thomas muda (Tom Holland) ikut dalam pelayaran kapal layar Essex yang berlayar dari Nantucket untuk mencari minyak paus. Essex dipimpin oleh seorang kapten minim pengalaman, Kap. George Pollard, Jr, yang terpilih hanya karena nepotisme. Di sisi lain, kelasi satu Owen Chase (Thor) adalah pelayar kharismatik dan beraura leadership yang terbentuk oleh asam-garam lautan. Owen juga adalah seorang penombak paus yang ulung. Tidak boleh ada matahari kembar. Konflik antara Kap. Pollard dan Tuan Chase akhirnya muncul dan seringkali mengemuka di atas kabin Essex. Tidak jarang pertentangan ego testoteron ini hampir membahayakan keselamatan semua kru.

Namun seiring perjalanan ke Lautan Pasifik, keduanya mulai berdamai dan mencoba fokus pada tujuan utama. Kabar burung dari sesama pelaut menceritakan tentang suatu kawasan berjarak ribuan kilometer dari pantai Amerika Selatan, dimana ada kumpulan paus yang tidak terhitung jumlahnya. Bayangan akan bertandon-tandon minyak dan keuntungan yang luar biasa menghiasi imajinasi para kru. Essex pun menuju kesana, tanpa menyadari bahwa petaka mamalia bersirip akan segara menghantui mereka. Petaka yang akan meremukkan para kru Essex hingga ke titik paling nadir kemanusiaan.

chris-in-the-heart-of-the-sea

"Moby Dick", novel Amerika klasik yang terilhami oleh cerita yang diangkat film ini konon memang berhasil menangkap semangat zaman. Nilai-nilai tentang obsesi, fokus, kehormatan yang sentimentil, sekaligus spirit industrial yang dibungkus dengan nubuat-nubuat mistik Kitab Suci dan romantika kesatria-kesatria Olympia serta diperkuat dengan detail luar biasa tentang perburuan paus berhasil direalisasikan oleh seorang Melville. Lalu bagaimana dengan upaya seorang Ron Howard?

Dari sisi akting, jajaran pemeran yang mumpuni sudah menjadi pengingat kalau divisi ini tidak perlu dibahas lagi. Sinematografinya sendiri sangat memuaskan untuk film bertema samudera. Saya memakai kata "sangat" karena membandingkan dengan film high profile ber-genre sejenis, Life of Pi yang walau punya suguhan visual yang lebih dahsyat, namun ngotot untuk menggunakan kamera digital ultra HD yang terkesan mentah. Grafis pada In the Heart of the Sea menggunakan spektrum warna yang luas, mulai dari biru (laut, langit, pemukiman), kuning (pasir, matahari, senja), merah (darah), hingga putih abu-abu (Si Paus Sperma). Ditunjang dengan efek CGI yang halus dan detail namun tetap wajar, film ini merupakan hiburan visual yang menyenangkan. Untuk musik latar, komposer Roque Baños sudah lumayan mampu memperkuat adegan-adegan, walau suguhannya tidak terlalu istimewa di telinga. (Untungnya Hans Zimmer kembali bekerja sama dengan Ron Howard tahun depan lewat "Inferno")

Diluar aspek teknikal dan akting, In the Heart of the Sea secara umum memang cukup memuaskan ekspektasi saya. Namun, film ini sebenarnya berpotensi menjadi klasik nan magnificent apabila pihak studio (Warner Bros) tidak terlalu berpretensi menjadikan film berbujet $100 juta ini menjadi suguhan blockbuster petualangan aksi 3D. Lihat saja beberapa poster promosi film ini yang menampilkan ukuran paus sperma yang terlalu raksasa (ini paus atau kraken?) Film Howard sebelum ini, "Rush", berhasil menampilkan narasi tentang ego dan obsesi yang solid dan tentunya pas menangkap karakter zaman. Bedanya, skup cerita dan penokohan pada film ini lebih luas dan beragam. Karena itu durasi 2 jam menurut saya masih belum cukup untuk mendalami konflik antara manusia dan alam di film ini.

Akhir kata, In the Heart of the Sea adalah sajian bermutu yang mungkin akan disalah-artikan sebagai film aksi dan monster laut biasa. Jantung film ini sebenarnya adalah tentang kerakusan sekaligus kerendahatian. Tentang kebencian sekaligus penghormatan. Tentang ambisi sekaligus kepasrahan. Tentang kesadaran bahwa dalam satu titik, musuh terbesar kita (dalam film ini adalah seekor paus) bisa jadi adalah cermin paling jujur yang memunculkan takzim yang tulus tentang makna hidup. Karya Ron Howard ini berhasil menghujam dada kiri, menembus paru-paru dan juga jantung, walau lukanya tidak terlalu dalam dan mematikan. Andai saja film ini bisa mengambil secara total spirit prophetik dari "Moby Dick", saya tidak akan ragu untuk memberi skor sempurna.

Sebuah film penutup tahun yang underrated, yang dibayang-bayangi oleh raksasa "Star Wars".

Baca juga: Review Spectre, Pencarian Terhadap Hantu yang Anti Klimaks
linebreak Ini adalah artikel review dari komunitas Cinemags dan telah disunting sesuai standar penulisan kami. Andapun bisa membuatnya di sini.

View moreTulis Reviewmu

loading...